Pada tahun 2019, Pemerintah Targetkan Sebanyak 5.000 Desa Tertinggal Dientaskan

Pemerintah menargetkan dan optimistis sampai dengan tahun 2019, sebanyak 5.000 desa tertinggal berubah menjadi desa maju atau dientaskan. Target ini tidak berlebihan. Sebab, selama 3,5 tahun lebih pelaksanaan Dana Desa dan program pembangunan desa lainnya, telah berhasil menurunkan jumlah desa tertinggal sebanyak 8.035 desa. “Artinya, target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 untuk mengurangi 5.000 desa tertinggal telah terpenuhi,” kata Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo. Eko mengatakan itu dalam sambutannya saat merayakan HUT RI ke-73 di Desa Bukit Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Bengkulu, Jumat (17/8 ). Menurut Eko, pembangunan desa ditempatkan sebagai fokus utama dalam percepatan pembangunan dari pinggiran. Sebagai bentuk komitmen membangun desa, sejak Tahun 2015-2018 pemerintah telah menyalurkan Dana Desa sebesar Rp 187,65 triliun. Kebijakan Dana Desa bukan hanya yang pertama di Indonesia, namun juga merupakan kebijakan pertama dan terbesar di dunia yang mencakup 74.957 desa. Eko mengatakan, sebanyak 2.318 desa statusnya telah menjadi desa mandiri. Capaian ini juga sudah memenuhi target di dalam RPJMN, yaitu meningkatkan 2.000 desa mandiri. Berkaitan dengan pembangunan daerah tertinggal, sampai akhir Tahun 2017, dari total 122 daerah tertinggal sebanyak 59 daerah berpotensi terentaskan. Dan Kabupaten Seluma merupakan salah satu diantara 59 kabupaten yang berpotensi terentaskan. “Kepada seluruh elemen bangsa Indonesia untuk mendukung percepatan pembangunan di desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi. Kedepan, kita masih harus bekerja keras mengatasi banyak tantangan seperti penguatan daya saing dan revolusi industri 4.0,” kata Eko. Tantangan-tantangan ini tidak boleh menjadi aral semangat, karena harus yakin, sepanjang masyarakat bersatu, bergotong-royong, bersungguh-sungguh, bekerja keras dan bekerja cerdas pada bidang tugas masing-masing, masyarakat akan mampu menjawab tantangan ini. “Mari bangkit menjadi bangsa yang kompetitif,” kata dia. Ketatnya persaingan harus segera dijawab dengan sebuah kerja nyata semua anak bangsa. Kini bukan saatnya lagi mengedepankan hal-hal yang bersifat seremonial dan tidak produktif. Dikatakan, peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan RI dengan teman, “Kerja Kita, Prestasi Bangsa”, maka kata kuncinya adalah kerja nyata. Mari terus bekerja dan menorehkan prestasi-prestasi membanggakan untuk memperkuat rasa bangga dan keyakinan terhadap bangsa Indonesia. “Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Teruslah bekerja, teruslah berinovasi dan teruslah berprestasi,” tegas pria berkaca mata ini. Eko juga menyampaikan berbagai capaian kerja pemerintah dalam membangun kawasan perdesaan di seluruh Indonesia. Melalui dana desa yang jumlahnya terus ditingkatkan besarannya, masyarakat dapat benar-benar merasakan pembangunan yang dicanangkan pemerintah. Harus Dukung Eko mengajak masyarakat agar mendukung percepatan pembangunan di desa, daerah tertinggal dan transmigrasi. Dalam kesempatan itu Eko juga memotivasi warga agar mau menempa diri, bekerja lebih produktif dan memiliki semangat untuk berkompetisi secara sehat dengan orang lain. "Kita harus selalu mau belajar. Miliki jiwa kompetisi, harus semangat," katanya. Eko mengatakan, pelaksanaan upacara dan rangkaian kegiatan perayaan kemerdekaan kali ini bukan hanya sekedar seremonial saja, namun lebih dari itu merupakan bentuk perhatian dan komitmen pemerintah mendukung pembangunan desa dan daerah tertinggal. Negara yang memiliki lebih dari 17.100 pulau dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, memiliki lebih dari 714 suku bangsa dan 1.100 bahasa daerah. Saat ini, Indonesia banyak dipuji karena stabilitas politiknya, perkembangan ekonominya yang sehat dan prestasi-prestasi lain yang dicapainya. Orang asing menghargai Indonesia karena negeri kita tidak hanya besar secara fisik saja, tetapi karena kita telah melakukan berbagai hal baik dan benar yang sudah semestinya dilakukan oleh bangsa yang bertanggung jawab dan berbudaya. Kini, Indonesia menempati urutan ke-15 sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Bahkan Tahun 2030, kita diprediksi menjadi negara dengan ekonomi terkuat ke-9 di dunia dengan PDB mencapai US$ 2,45 triliun dan pada tahun 2050 diprediksi menempati peringkat ke-4 dunia. Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2018, persentase kemiskinan Indonesia hanya satu digit yaitu 9,82%, terendah sejak Tahun 1998. Tentunya, ini adalah buah dari kerja keras seluruh elemen bangsa dan semakin menguatkan keyakinan kita akan potensi, kekuatan dan sumber daya yang kita miliki. Inilah “Kerja Kita, Prestasi Bangsa”, yang akan memperkuat rasa bangga dan keyakinan kita pada Indonesia. Komitmen tersebut tertuang dalam Nawacita ke-3 yaitu “Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah-daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan”, tegasnya. Dalam kesempatan tersebut, Mendes Eko Putro Sandjojo juga menyerahkan hibah berupa 25 mobil pick up kepada 25 BUMDes untuk sejumlah desa penerima dana desa di Kabupaten Seluma, menyerahkan hibah bantuan perangkat early warning system (EWS) untuk Desa Pasar Ngalam dan Ngapal Jungur. Hibah ini berasal dari anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Kemdes PDTT. Eko mengatakan, bantuan mobil tersebut dikhususkan untuk desa-desa yang tergolong paling tertinggal di Kabupaten Seluma. “Kita berikan bantuan mobil ini untuk menunjang kemajuan desa yang paling tertinggal di Kabupaten Seluma. Semoga bantuan ini dapat meningkatkan pendapatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mereka dan dapat memudahkan usaha mereka,” kata Eko. Berbagai merk mobil berjenis pick up ini diberikan guna menunjang akomodasi dan transportasi BUMDes di beberapa desa. Diharapkan bantuan ini bisa mempermudah transportasi desa, apalagi yang berada jauh di pedalaman. Kepala Desa Napalan Talo Kecil, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Edi Sosianto, mengatakan sangat senang menerima bantuan monil dari menteri PDTT tersebut. “Kami mewakili warga Desa Napalan Talo Kecil sangat berterima kasih menerima bantuan mobil dari Kementerian Desa dan PDTT yang kedepannya akan digunakan untuk BUMDes desa kami yang menyewakan tenda kursi. Kan sangat cocok untuk angkutan kami,” kata dia. Senada Kepala Desa Peninjauan II, Tatik Witaratmi, mengatakan, mobil-mobil pick up yang mereka terima akan membantu mengangkut barang-barang yang dijual BUMDes. “Mobil-mobil ini tentu sangat membantu,” kata perempuan berhijab ini. Sebelumnya, Eko juga telah menandatangani tiga prasasti bantuan, yakni, sarana air bersih untuk Desa Talang Giring dan Desa Talang Arang Kecamatan Lubuk Sandi, early warning system untuk Desa Pasar Ngalam dan Napal Jungur Kecamatan Air Periukan dan Bronjong/Talud untuk Desa Air Periukan Kecamatan Air Periukan, Seluma. Sebelum bertolak ke Kota Bengkulu, Eko Putro Sandjojo menghampiri stan yang dijajakan oleh BUMDes di Kabupaten Seluma dan mencicipi beberapa makanan khas desa setempat. Ada juga terdapat stan pasar murah yang diberikan Eko kepada warga secara simbolis. Bukit Peninjauan I dan II, merupakan salah satu daerah transmigrasi di Provinsi Bengkulu. Desa Bukit Peninjauan II dihuni +/- 3.000 jiwa, yang merupakan masyarakat transmigran dari Pulau Jawa. [E-8] Sumber berita : http://sp.beritasatu.com/home/pemerintah-targetkan-tahun-2019-sebanyak-5000-desa-tertinggal-dientaskan/125609

Pada tahun 2019, Pemerintah Targetkan Sebanyak 5.000 Desa Tertinggal Dientaskan